Pemimpin sejati adalah mereka yang memerdekakan pikiran, emosi, dan spritual yang dipimpin dengan cara-cara yang memerdekakan untuk mencapai visi bersama

Minggu, 20 Desember 2009

KEPEMIMPINAN SPRITUAL

Oleh: Mohammad Karim

Spiritual, spritualitas atau kata yang sepadan dengan itu mungkin akan mempunyai pengertian berbeda antar benak masing-masing orang. Spritualitas orang barat dengan orang timur, spritualitas muslim, kristiani, budhis dan seterusnya akan berbeda.
Dibenak mayoritas orang timur spritualitas akan sering dikaitkan dengan keberadaan Tuhan dengan seluruh kekuasaannya, misalnya keiklasan, kejujuran, positif thingking dan sebagainya, semua sikap batin itu akan selalu didasarkan dan diniatkan serta dilakukan hanya karena Tuhan sebagai pencipta, tidak karena manusia, materi, kedudukan dan lain-lain. Para ahli mengistilahkan sifat dan perilaku ini dengan “teosentris” dimana Tuhan menjadi awal dan akhir dalam melakukan beraktifitas.

Dalam benak mayoritas orang barat spritualitas akan sering diartikan sebagai sifat dan perilaku batin yang didasarkan pada dasar-dasar kemanusiaan dan keagungan-keagungan yang diinginkan manusia, misalnya menyayangi, menghormati atau kehormatan, membebaskan atau kebebasan dan sebagainya. Semua sikap tersebut diniatkan pada pengabdian untuk manusia dan lingkungan sekitar. Para ahli mengistilahkan sifat dan perilaku ini dengan “antroposentris” dimana manusia menjadi awal dan akhir dalam melakukan beraktifitas.

Masing-masing pandangan diatas memberikan argumentasi yang sama kuatnya. Pendapat pertama mengatakan bahwa Tuhan menjadi awal segalanya, prosesnya dan dan akhirnya. Semakin tinggi nilai teosentris pemahaman seseorang, maka nilai antroposentris akan mengiringinya secara otomatis. Orang harus selalu mendekatkan diri kepada Tuhannnya dimanapun ia beraktifitas.

Pendapat kedua mengatakan bahwa jika cara berfikir, berperilaku, seseorang semakin antroposentris maka ia akan semakin teosentris, karena pada masing-masing individu manusia ada nilai-nilai ketuhanan, jika seseorang banyak memberikan kebaikan terhadap sesama manusia maka ia akan semakin menambah nilai-nilai keTuhanan karena baik terhadap sesama adalah perintah Tuhan, terlebih manusia sendiri sebagai wakil Tuhan (khalifah) di bumi.

Dalam tulisan ini dua pandangan diatas seluruhnya akan kita anut dalam menuliskan tentang kepemimpinan spiritual. Maka dalam mendifiniskan kepemimpinan spiritual tidak dengan kerangka dikotomis antara pemahaman teosentris dan antroposentris, dua pemahaman itu akan dielaborasi sehingga akan terbangun sebuah pengertian, konsep, dan teori yang memahamkan kita semua.

Berangkat dari sini, kepemimpinan spiritual adalah kepemimpinan yang melibatkan nilai-nilai Ilahiyyah sebagai awal dan tujuan serta melibatkan nilai-nilai Insaniyyah sebagai proses pemerdekaan guna menuju visi bersama. Dalam kepemimpinan spiritual pemimpin tidak boleh mendasarkan dan menggantungkan segala aktifitas kepemimpinannya terhadap selain manusia, Tuhan haruslah menjadi muara dan akhir dari segalanya. Posisi nilai Insaniyyah yang dilibatkan dalam proses mencapai visi bersama haruslah dikawal dengan nilai-nilai Ilahiyyah.

Beberapa perilaku kepemimpinan spiritual adalah menyadarkan diri individu yang dipimpin tentang adanya kekuatan diluar diri berupa Tuhan, mengajak mereka kepada pencerahan berfikir, berperasaan, dan berperilaku, mengajak mereka dari nilai negativ ke nilai positif, dari alam syaitan ke alam malaikat dan seterusnya.

Para pemimpin spiritual memberikan pencerahan batin, ia berusaha memunculkan nilai-nilai Ilahiyyah yang sudah terberi (givend) dalam setiap individu manusia yang dipimpinnya. Pemimpin spiritual fokus untuk memunculkan potensi tersebut bahkan dengan menciptakan lingkungan yang memadai bagi tumbuh kembangnya potensi tersebut. Potensi Ilahiyyah tersebut dianggap sebagai inti dari kehidupan, maka dengan memelihara inti atau benih kehidupan itulah diharapkan lahir kebaikan dan kebenaran yang sejati.

Para pemimpin spiritual percaya bahwa dengan pemberdayaan individu melalui pencerahan iman, hati, akal pikiran, perasaan akan melahirkan suatu tindakan produktif dari individu tersebut. Disaat seseorang menjadikan Tuhan sebagai pengendali dominan dan terkuat atas dirinya maka akan muncul tindakan-tindakan yang mengarah kepada kebaikan, kebenaran, produktifitas, kreatifitas dan sebagainya.

Fungsi kepemimpinan spritual adalah untuk memberdayakan dan mencerahkan iman dan hati nurani pengikut melalui jihad dan untuk membesarkan manusia dengan membesarkan lembaga dengan keteladanan berkorban.

Etos kepemimpinan spiritual adalah mendedikasikan usahanya kepada Allah dan sesama manusia (ibadah). Pendekatannya adalah dengan hati nurani dan keteladanan
Cara mempengaruhi adalah dengan keteladanan, mengilhami, membangkitkan, memberdayakan, memanusiakan serta memenangkan jiwa, membangkitkan iman.

Sedangkan target dan sasarannya adalah membangun kasih, menebar kebajikan dan penyalur rahmat Tuhan dan untuk memberdayakan dan mencerahkan iman dan hati nurani pengikut melalui jihad.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar